Tunas-Tunas Pejuang, Kotaku Nusantaraku Bagian 1


Kotaku Nusantaraku

Oleh: Suryadi

Semilir angin laut yang sejuk, percikan air laut menyapu pantai. Burung-burung camar berterbangan bebas, pertanda alam Indonesia yang penuh kedamaian. Nusantara tercinta Indonesia. Persada pertiwi yang subur. Dikelilingi laut yang luas dan dirgantara yang terang membentang. Indonesia akan sanggup dan akan terus sanggung menghidupi segenap bangsanya. Akan sanggup dan akan terus sanggup menciptakan kesejukan, ketenangan, kesejahteraan, dan kedamaian.

Kekayaan alam bumi Nusantara berlimpah ruah. Itu yang baru dilihat dan dirasakan oleh pancaindera kita. Belum lagi yang masih terpendam. Sungguh tak terhingga! Tebal keyakinanku bahwa hari esok semakin cerah.

Pagi menjelang subuh yang cerah.

Menyongsong kehadiran sang surya di ufuk timur. Suasana tenteram terasa menyentuh hati setiap insan. Kapal-kapal dagang yang merapat di dermaga pelabuhan laksana gedung-gedung bertingkat. Lampunya gemerlapan membias di permukaan alun ombak yang membiru. Sungguh indah bagaikan kota yang terapung. Namun, semuanya sepi membisu.

Masih terlena dibuai angin laut yang terdengar hanyal gemuruh mesin-mesin kapal dan debur ombak yang melanda lembut lambung kapal. Desir suara daun-daun cemara yang dipermainkan angin pagi, menambah redupan suasana pelabuhan. Cahaya lampu kapal di tengah laut berkelip-kelipan. Seakan-akan beberapa pasang mata mengedip-ngedip mengajak berlayar ke laut bebas. Sungguh panorama yang mengesankan. Menyentuh dan menyayat hati bagi setiap orang yang memandangnya.

Selimut malam mulai tersingkap

Langit yang pekat cahanya mulai memudar. Bagaikan kain sutera biru jernih terbentang luas di angkasa. Bintang pun mulai menghilang satu demi satu, terdesak sinar lembayung fajar yang mulai muncul. Sayup-sayup terdengar kentongan yang teratur mengalun. Suara sayup-sayup lembut yang datang dari surau-surau di pinggir kota.  Jauh di sana memecah kesunyian. Menyerukan dimulainya kembali kehidupan dengan menunaikan Shalat sebagai ketaqwaan kepad Khaliknya. Saat itu pula terdengar gema adzan dari masjid. Suaranya jelas menggema. Bedug-bedug subuh pun berbunyi.

Marilah shalat! Marilah shalat!
Shalat itu lebih bermanfaat daripada tidur!
Shalat itu lebih bermanfaat daripada tidur!
Aku pun segera meninggalkan tempat itu. Kutaati panggilan adzan. Tidak ada daya dan upaya kecuali mendapat pertolongan-Mu!
Betapa besarnya rahmat dan karunia Tuhan kepada kita semua. Betapa besarnya limpahan kasih sayang Tuhan kepada umatnya. “Allah menciptakan segalanya untuk kamu semua!” demikian firman Tuhan.

Bumi yang subur, air berlimpah, udara yang bersih semuanya untuk kita. Semuanya tergantung di tangan manusia. Semuanya tergantung di tangan kita. Mampukah?
Ini satu tantangan. Berlaku dari zaman ke zaman. Berlaku dari generasi ke generasi. Mampukah?

Fajar telah menyingsing!

Sinar yang kuning keemasan menerangi alam semesta, menerangi pelosok kota. Lampu-lampu toko pun mulai padam. Satu demi satu. Jalan-jalan raya mulai ramai. Ramai oleh berbagai kendaraan, termasuk juga mereka yang berjalan kaki. Kesibukan sudah mulai tampaik, memperjelas citra sebagai kota, mempertegas warna hidup perkotaan

Generasiku tahu sudah ada kota

Sudah ada gedung-gedung bertingkat. Sudah ada jalan raya yang lebar dan licin. Sudah ada pabrik-pabrik, toko-toko, pasar, dan gedung-gedung sekolah. Sudah ada listrik, sudah ada air ledeng. Pokonya sudah ada semua.
Itu satu kenyataan. Namun, bagiku itu merupakan satu pertanyaan, satu tantangan. Pertanyaan dan tantanganyang harus di jawab sendiri oleh generasiku. Termasuk aku sendiri.

Pembangunan, sekali lagi pembangunan!

Sudah menjadi kenyataan. Kebutuhan hidup mutlak harus ada. Naluri alam sejak manusia dilahirkan, diperjuangkan oleh setiap orang dan didambakan oleh setiap insan. Pembangunan penuh risiko dan tanggung jawab. Melibatkan semua pihak. Menyita waktu semua zaman, menghabiskan biaya yang tak terhitung besarnya. Menghabiskan tenaga ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang. Itu kenyataan, risiko sekali lagi risiko! Kini semuanya telah terwujud, semuanya telah terpenuhi. Tahap demi tahap, sesuai dengan rencana yang kita kehendaki! Sungguh hebat!

Menciptakan suatu kota tidak mudah

Ini yang benar-benar harus disadari oleh generasiku, bukan sekedar menyiapkan uang. Bukan sekedar membuat perencanaan. Bukan sekedar menyediakan material dan tenaga. Bukan sekedar itu, bukan! Justru yang sangat berat menyiapkan kesadaran dan tanggung jawab. Sadar bahwa semua itu kepentingan dan kebutuhan kita bersama. Sadar bahwa semua itu kewajiban dan tanggung jawab kita bersama! Itu semua tuntutan dan tantangan bagi generasiku. Mampukah?

Dalam pengertian usia kota ini sudah tua. Enam ratus tahun lalu baru didirkan. Saat iru masih hutan belukar, masih hutan belantara. Pantainya penuh dengan rawa-rawa. Jua belum bisa dikatakan kota. Mungkin tepat kalau disebut pemukiman.

Alamnya masih murni. Alam yang masih gelap gulita. Alam yang yang banyak mengandung rahasia hidup dan penghidupan. Alam yang masih utuh. Belum dijamah manusia. Karena manusia itu sendiri baru dalam jumlah kecil dibanding dengan daerah yang begitu luas. Mereka adalah nenek moyang kita.

Ayahku sering bercerita tentang itu. Cerita tentang sejarah kotaku. Dari zaman ke zaman. Menurut cerita ayah, kota ini dahulu pusat penyebaran agam Islam. Pimpinan agama saat itu disebut wali. Pantas kalau sekarang ada julukan Kota Para Wali, sebab para walilah yang membangun kota ini. Kota Cirebon sepanjang masa. Hutan yang lebat dibabatnya, dijadikan pemukiman. Dibangunnya rumah-rumah dan surau-surau. Di pemukiman itulah syiar Islam dimulai.

Pekerjaan ini tidak semudah apa yang dituturkan dalam cerita. Penuh pengorbanan. Menyita banyak waktu. Pengorbanan segala-galannya. Sampai nyawa sekalipun. Hal ini dibuktikan oleh peningglan-peninggalan yang masih ada. Ujung keris dan ujung tombak menjadi saksi. Warna coklat kehitam-hitaman seperti karat, satu pertanda bekas darah yang mengering. Entah darah siapa? Yang jelas membuka daerah ini melalui pertumpahan darah. Tanah ini dibayar dengan darah. Terlalu mahal! Namun, itu kenyataan, satu risiko. Suatu tanggung jawab, akhirnya berhasil. Sungguh hebat! Mampukah?

Usaha mereka tidak cukup sampai di situ, terus berkembang. Mengikuti tuntutan zamannya. Membawa tugas yang suci dan mulia. Setia pada janji. Tak akan luntur oleh guntur, tak akan gentar oleh halilintar. Terus berjalan, laksana air sungari yang deras mengalir setia pada tujuannya. Harus sampai ke muara, apapun yang terjadi. Mereka berjuang keras dilandasi kesadaran dan karena Allah. Ditatalah daerah ini menjadi satu pemerintahan. Didirikannya masjid-masjid, rumah-rumah penduduka, dan keraton-keraton. Dipilihnya pemimpin di antara mereka. Semakin hai semakin jelas bukti nyata adanya kehidupan dan penghidupan.
Kehidupan yang penuh kemakmuran, keadilan, dan kedaimaian. Pendudukanya terus bertambah.Berdatangan dari mana-mana, mencari kehidupan dan penghidupan baru. Nama daerah ini semakin terkenal. Terkenal jauh sampai melampaui laut luas. Sungguh hebat, karya perkasa! Mampukah kita?


Bangsa-bangsa lain mendengar hal itu akhirnya. Mereka menaruh minat, untuk datang. Pada mulanya mereka datang untuk berdagang kenyataanya lain, memang kenyataanya lain. Apa yang dilihatnya jauh berbeda dengan apa yang didengarnya. Perbedaan yang luar biasa. Mereka mengira keadaan yang biasa saja. Ternyata keadaan yang luar biasa. Mereka terpikat sekali dengan keadaan ini. Mereka akhirnya mengubah niat. Timbullah nafsu angkara murka. Timbul keserakahan. Bukan sekedar inggin menikmati namun mereka ingi pula memiliki.

Mereka banyak berdatangan. Pada mulanya membawa kapal dagang. Akhirnya mereka datang dengan kapal perang! Saat itu awal dari pembaruan dan kemajuan. Saat itu pula awal dari penderitaan dan kehancuran.Awan hitam yang tebal mulai mengumpul sinar matahari pun mulai menggelap. Angin kencang mulai bertingkah di angkasa. Pertanda badai akan segera datang. Badai angkara murka. Badai keserakahan dunia. Badai yang akan membuat derita kesengsaraan. Badan yang akan mengancurkan ciri dan sendi-sendi kehidupan bangsaku.

Akhirnya jatuhlah kotaku ke tangan raksasa angkara murka. Raksasa yang haus harta. Raksasa yang haus tanah, raksasa yang haus darah! Si kulit putih menancapkan kukunya di bumi pertiwi tercinta ini. Mereka menaburkan jarum-jarum fitnah. Agar antara kita saling curiga. Agar antara kita saling bertengkar, akhirnya agar antara kita saling perang!

Hancurlah rasa kekeluargaan. Hancur luluhlah rasa persaudaraan. Hancur dan binasa rasa satu bangsa. Musnah sudah istana persatuan dan kesatuan. Istana yang sejak ratusan tahun dibangun kukuh kuat. Ini suatu malapetaka bangsa. Sungguh dahsyat. Maukah kita?

Keadaan semacam itu berlangsung cukup lama. Ratusan tahun. Kata ayah itulah yang disebut zaman pendidikan.Memang kita mengakui, sejarah menceritakan bahwa pada saat itu pun ada pembangungan. Didirikan gedung-gedung, jalan raya diperbanyak dan diperlicin. Pabrik-pabrik dan tokok-tokok bermunculan. Perkebunan dan pengairan semua diadakan. Perdagangan pun maju dan pelabuhan menjadi ramai. Terwujudlah apa yang dinamakan kota.

Namun, demikian kenyataan itu penuh kepalsuan. Semuanya didirikan di atas penderitaan rakyat semuanya dibangin di atas tumpukan mayat-mayat rakyat. Rakyat diperas dan ditindas untuk kepentingan  penjajah. Jalan yang lebar dan sangat panjang dibuat dengan tenaga rakyat, tanpa upah dan tanpa jaminan. Ribuan mungkin jutaan nyawa dijadikan tumbal kepentingan penjajah. Sangat kejam! Maukah kita?

Penderitaan tidak cukup sampai di situ, berlangsung terus. Berabad-abad lamanya.
Namun, Tuhan menakdirkan lain, tidak ada laut yang tak bertepi, tidak ada jalan yang tak berujung. Tidak ada penderitaan yang tanpa akhir! Fajar kemerdekaan mulai datang, sinarnya terang benderang membawa kesejahteraan dan kedamaian. Menerangi seluruh pelosok persada pertiwi, bumi Nusantara Indonesia.

Kita telah merdeka!

Merdeka, sekali merdeka tetap merdeka! Untuk selama-lamanya! Merdeka!
Pagi itu sengaja aku berada di pantai. Hatiku gemuruh menyusun ungkapan cerita ayahku tentang perjuanan. Suasana yang hening itu membantu mengungkapkan perasaan hatiku. Sengaja kutulis dan kuhimpun sebagai bahan pelajaran bagi murid-muridku, agar menyentuh hatii mereka.
“Limm…, kau belum berangkat?” suara ayah dari kamar sebalah.
“Belum, Pak!” jawabku.
Aku anak yang paling besar. Adikku hanya satu, perempuan lagi. Ia masih sekolah, kelas terakhir di sekolah dasar. Tiga tahun yang lalu aku masih duduk di SPG. Setahun aku menganggur. Kini aku sudah bekerja. Kini aku seorang guru.

Di kota ini ayah sudah sudah lama. Sejak masih dinas di ketentaraan. Mungkin sejak tahun 1946, tidak tahu persis. Kotaku memang tua, tua dalam arti usia. Namun, wajahnya semakin muda. Kalau boleh kukatakan semakin remaja. Kini kotaku maju pesat. Sebagai kota pelabuhan, sebagai kota perdagangan. Sebagai kora industri, sekaligus sebagai kota pariwisata. Semuanya berkat pembangunan. Masyarakat memiliki kesadaran akan hal itu, termasuk aku sendiri di dalamnya.

Gema pembangunan terus menggema. Semangat membangun menggebu-gebu. Masyarakat sadar, kita sadar. Semuanya tidak mau kembali lagi ke zaman kesengsaraan. Tabu untuk mengulangi lagi kesalahan. Tabu untuk mengalami lagi penderitaan. Tabu untuk kembali lagi pada keadaan yang porak poranda. Sudah bosan melihat tangis kemiskinan. Sudah kenyang melihat kebodohan, sudah jenuh melihat kesengsaraan. Sudah muah menyaksikan pertumpahan darah. Stop! Sudah, sampai di sana saja. Na udzubillah min dzaliq!
“Sepeda itu akan bapak pakai, Lim,” kata ayahku sambil menghampiri.
“Boleh, Pak!” jawabku.
“Tati ikut bonceng!” seru adikku sambil membetulkan pakaian.
“Tati! Lho… mau ke mana? Sabar dulu, Ti! Ayo… rambutnya disisir dahulu!” kata ibu dari belakang mengejar adikku. Ibu sangat menyayangi adikku.

Aku sudah di jalan, menanti taksi lewat. Memang tempat bekerjaku cukup jauh. Di sana di batas kota. Dari jalan raya ke sekolahku  harus naik becak. Kadang-kadang aku berjalan kaki.
Biasanya ayah berjalan bila pergi ke kantor. Kantornya dekat. Kata ayah biar jantung tetap sehat!
Ayah sangat sayang kepadaku dan adikku. Anaknya Cuma dua!
Ayah orangnya sabar, aku tak pernah mendengar ayah marah. Ucapannya selalu halu dan lembut. Bermakna dan mudah dipahami. Pribadinya kuat dan tubuhnya masih kekar. Ciri sebagai perjuang nampak berbekas pada diri ayah.

Hanya ibu mungkin lain. Ia sering mengomel. Sering mengeluh. Bahkan sering juga tidak sependapat dengan ayah. Aku memaklumi. Ibu banyak dibawa menderita oleh kesengsaraan dan penderitaan yang dialami selama ini. Disamping kata hatinya lain dengan ayah. Naluri seorang wanita. Mengehendaki kehidupan yang sejahtera mendambakan kehidupan yang serba ada, bagaimanpun caranya.

Memang sejak ayah tidak lagi dinas di ketentaraan, ayah berkehendak untuk pindah. Pindah ke desa tempat kelahiranku, juga tempat kelahiran ayah. Di sana akan berkumpul dengan sanak famili. Namun, ibu tidak sependapat. Ibu bersikeras untuk tetap tinggal di kota. Pada saat itu aku sependapat dengan ibu karena sekolahku belum tamat. Keadaan inilah yang menjadi permasalah pokok antara ayah dan ibu. Sampai sekarang! Akhirnya aku terlibat di dalamya. Keadaan ini secara diam-diam berlangsung terus. Belum dapat diselesaikan. Biarlah, aku yakin satu waktu drama itu berakhir.

Sekarang masih tetap tinggal di kota. Kota yang kucintai. Kota yang kubanggakan. Kota yang membawa hidup dan penghidupan. Kota yang terus membangun. Tidak peduli apa yang dirasakan oleh keluargaku. Itu bukan urusan! Pembangunan harus berjalan laju, tidak boleh berhenti. Pembangunan bukan sekedar untuk masa sekarang. Bukan! Tetapi juga untuk masa mendatang. Hari ini ditentukan oleh kemarin, hari esok ditentukan oleh hari ini. Untuk pembangunan kota dan untuk kota pembangunan.


0 Response to "Tunas-Tunas Pejuang, Kotaku Nusantaraku Bagian 1"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel